Fish

Rabu, 29 Agustus 2012

MAKALAH PENYUSUNAN BAHAN MENYIMAK


PENYUSUNAN BAHAN MENYIMAK

            Pengajaran bahasa Indonesia bertujuan memberikan pengetahuan kebahasaan agar murid mampu menguasai bahasa Indonesia sebaik-baiknya. Untuk mencapai tujuan ini maka, pada dasarnya ada empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh murid secara baik dan benar sebagaimana tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu keterampilan menyimak (listening skill) keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca (reading skill), dan keterampilan menulis (writing skill).
            Dari keempat keterampilan berbahasa (language skill) yang dikemukakan di atas, hanya keterampilan menyimak yang akan menjadi perhatian dalam makalah ini karena pada umumnya pengetahuan diperoleh melalui keterampilan menyimak. Setiap orang mendengar berita-berita melalui media massa maupun informasi melalui tatap muka, saat itu telah berlangsung pula kegiatan menyimak. Oleh karena itu, pengajaran menyimak mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah dasar sebab kemampuan menyimak yang baik adalah kondisi awal untuk menghasilkan prestasi belajar yang baik.
            Berbagai pengalaman dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia mengindikasikan bahwa kemampuan menyimak murid sekolah dasar belum optimal. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian Muhaimin (2006) yang dicapai murid dalam proses-belajar mengajar di mana murid yang terlibat dalam kegiatan, yang mampu menyimak secara baik dan benar mempunyai persentase yang masih rendah. Indikasi ini menandakan masih rendahnya kemampuan menyimak murid tersebut terlihat pula hasil yang diperoleh dalam ulangan semester misalnya. Daya serap murid pada semua mata pelajaran dari seluruh murid dalam suatu kelas masih banyak nilai di bawah nilai standar 7,5. Ini berarti penguasaan murid terhadap mata pelajaran juga masih rendah.
            Setelah ditelusuri lebih jauh, hal tersebut di atas ternyata (salah satu) disebabkan oleh kurangnya kemampuan murid menyimak materi pelajaran. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada kesenjangan antara hasil pengajaran menyimak dengan target ideal, yaitu tercapainya kemampuan optimal murid dalam menyimak.


B.     DUOLOG DAN DIALOG
Sering kita beranggapan bahwa kegiatan menyimak tidak perlu dipelajari, kegiatan itu akan muncul secara alamiah karena memang begitu banyak mempergunakan waktu kita dalam “aneka situasi menyimak” dalam kehidupan sehari-hari; misalnya: berbicara dengan teman-teman, mengikuti kuliah, mendengarkan ceramah, menonton televisi, dan mendengarkan siaran radio. Ada lagi orang beranggapan bahwa kalau struktur telinga seseorang normal dan kapasitas pendengarannya baik, mau tidak mau orang itu secara otomatis dapat menyimak dengan baik. Belum tentu! Walaupun telinga seseorang baik secara anatomis yang memungkinkannya dapat menyimak, belum tentu secara otomatis pasti efisien. Menyimak baik, seperti keterampilan lainnya perlu bagi komunikasi lisan yang efektif, haruslah dikembangkan dan ditingkatkan. Pendeknya: menyimak efektif itu harus dipelajari.
Untuk melukiskan atau mengilustrasikan kurangnya keterampilan yang baik dalam bidang menyimak dalam masyarakat modern, agaknya dapat kita pergunakan konsep Abraham Kaplan mengenai duolog. Sebagai lawan dari dialog, duolog merupakan suatu situasi kelompok dua orang atau kelompok kecil yang masing-masing memperoleh giliran berbicara, tetapi tidak seorang pun menyimaknya. Kita dapat menemui contoh-contoh duolog sekolah, gereja, masjid, dan pemerintahan. Walaupun orang-orang dapat terlihat seolah-olah menyimak satu sama lain, tetapi dalam kenyataannnya mereka hanya menunggu waktu sampai tiba giliran bicara. Sementara satu orang berbicara, yang lainnya sibuk berpikir atau merenung, bukan mengenai sesuatu yang akan menjadi response mereka nanti. Menurut pendapat Kaplan, suatu duolog dapat dibandingkan secara baik dengan dua perangkat televisi yang dipasang dalam saluran-saluran yang berbeda dan keduanya saling berhadapan.
Sebaliknya, dialog yang sejati melibatkan penyimakan kepada orang lain seperti halnya pada diri sendiri. Dialog menuntut ancangan atau pendekatan terbuka, suatu kesudian menaruh perhatian kepada orang lain dan member response secara sopan kepada mereka tanpa latihan dan ulangan. Menyimak merupakan suatu sarana penting dan berguna bagi hubungan-hubungan antarpribadi yang bermakna. Kegunaan dialog ini sangat terasa dalam kehidupan modern, terlebih dalam bidang politik antarnegara (adikuasa; seperti antara Amerika Serikat dan Soviet-Rusia). Dalam dialog ini dibutuhkan benar-benar keterampilan berbicara dan keterampilan menyimak yang bermutu tinggi. Salah simak dapat menggagalkan maksud dan tujuan kedua belah pihak. Oleh karena itu, kedua belah pihak pun menyimak secara kritis dan cermat (Webb; 1975 : 126-8).
Kerap kali pula orang beranggapan bahwa dialog, pembicaralah yang memegang peranan penting, paling bertanggung jawab bagi komunikasi lisan yang efektif. Mereka lupa atau tidak memahami sama sekali bahwa komunikasi lisan merupakan kegiatan atau transaksi dua arah antara pembicara dan penyimak; bukan merupakan serangan lisan satu arah yang dilakukan pembicara kepada penyimak. Perlu diingat dan disadari benar bahwa tanpa menyimak yang baik, dan penyimak yang baik, tidak akan ada umpan balik; dan tanpa umpan balik, para pembicara akan dipaksa menyuarakan atau mendengungkan pesan-pesan mereka tanpa tujuan dan tanpa maksud, sia-sia belaka. Oleh karena itu, kalau kita berada pada pihak penyimak, jadikanlah diri kita penyimak yang terpuji: tahu bagaimana cara menyimak dan tahu apa yang harus disimak. Kalau berada pada pihak pembicara, kita harus tahu menarik minat dan perhatian para penyimak. Ingat bahwa pembicara membutuhkan penyimak dan penyimak membutuhkan pembicara. Pendek kata: menyimak adalah interaksi pembicara dan pemirsa (Ehninger [et all], 2978: 21).

  1. HAKIKAT PERHATIAN
Perlu kita camkan benar bahwa menyimak adalah suatu penerimaan yang aktif terhadap informasi lisan. Lebih dari sekedar penerimaan stimulus atau suatu tindakan yang refleksif, menyimak juga merupakan suatu perilaku yang dapat dianalisis dan dimodifikasi; merupakan sesuatu yang dapat kita pilih untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan sama sekali; kita dapat menentukan apakah perlu diberi wadah atau tidak; kita dapat menentukan tingkat keefektifannya; dan kita dapat mengganti bahkan meningkatkan atau mengembangkannya.
Kalau menyimak merupakan suatu tindakan elektif atau perbuatan fakultatif, perhatian yang sangat perlu bagi penyimakan yang baik, merupakan suatu perilaku selektif atau kelakuan terpilih. Contohnya pada suatu ketika, kita memilih untuk menyimak lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap pada waktu senggang; kemudian dari sekian banyak lagu ciptaannya, kita menyeleksi lagu pujaan kita lalu kita menyimaknya dengan penuh perhatian. Demikianlah dapat kita simpulkan bahwa perhatian adalah suatu proses penyelesaian dari berbagai ragam stimuli sebuah stimulus yang penting bagi seseorang pada saat-saat tertentu. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa perhatian bersinonim dengan persepsi selektif (Webb, 1975: 130).
Ada orang yang akan berkata bahwa mungkin saja seseorang menaruh perhatian pada sesuatu tanpa menyimaknya, atau ada orang yang beranggapan bahwa mungkin saja seseorang memproses secara stimulasi awal atau perangsang lisan tanpa menyimaknya secara aktual. Tetapi pada umumnya, tidak mungkin seseorang menyimak sesuatu tanpa menaruh perhatian padanya.
Pengertian perhatian itu sendiri tidak sesederhana anggapan kebanyakan orang; justru sangat rumit dan kita belum mengetahui banyak mengenai itu. Yang jelas kita ketahui ialah bahwa perhatian itu beroperasi pada situasi, sikap dan rasa. Perhatian yang diberikan terhadap suatu percakapan pada suatu pesta berbeda tipe dan intensitasnya dari perhatian yang kita berikan pada saat ujian lisan. Perhatian yang kita berikan kepada tukang minyak berbeda dengan perhatian yang kita berikan kepada tukang jamu. Perhatian yang diberikan oleh para siswa kepada mata pelajaran sejarah berbeda dari perhatian yang mereka berikan pada mata pelajaran agama.
Ada seorang pakar yang menyarankan bahwa konsep perhatian itu mencakup berbagai faktor, antara lain:
1. Konsentrasi mental             : mengonsentrasikan diri pada tugas mental dan mencakup stimulus yang akan berbaur dengan performansi atau penampilan, seperti halnya pada saat kita belajar di perpustakaan dan menghilangkan/ meniadakan bunyi-bunyi yang tidak perlu.
2. Kewaspadaan                     : melihat jam atau waktu, walaupun sebenarnya tiada terjadi apa-apa; sama halnya dengan polisi lalu lintas yang harus siap bertugas, walaupun di jalanan tiada kendaraan atau orang berjalan; biar sepi polisi siap berdiri di persimpangan jalan.
3. Selektivitas                           : mampu memilih; menerima beberapa pesan sekaligus, serentak; dan menyeleksi satu saja untuk diterima dan diberi jawaban, seperti halnya pada sebuah pesta, para pelayan menawarkan berbagai minuman dan atraksi kepada kita.
4. Mencari dan memeriksa      : memburu suatu tanda tertentu di antara seperankat tanda-tanda, seperti halnya dalam mengidentifikasikan tema sepenggal musik atau pesan dalam suatu ceramah atau khotbah.
5. Aktif dan giat                       : selalu siap sedia, terus siaga menjawab apa saja yang akan muncul, memberi responsi terhadap segala ucapan, seperti pada saat seseorang berkata, "para hadirin yang terhormat, kami meminta perhatian Anda bahwa Bapak Menteri yang kita nanti-nantikan telah datang dan akan memberi ceramah sebentar lagi."
6. Penataan diri                                  : menata atau mempersiapkan diri baik-baik untuk memberikan reaksi atau sambutan dengan cara tertentu baik secara mental maupun secara secara fisik, seperti halnya dalam suatu perdebatan ataupun pada panggung pembuatan film. (Horay, 1970 : 5-6).
            Setelah mengetahui serta mendalami faktor-faktor yang tersirat dalam konsep perhatian di atas, jelas bagi kita betapa rumitnya masalah itu, dan betapa besarnya upaya yang harus dilakukan untuk menarik perhatian orang lain, khususnya dalam bidang menyimak
            Nah, kalau kita menerima daftar di atas sebagai suatu penjelasan mengenai apa perhatian itu, toh kita masih juga menyampingkan masalah-masalah mengenai bagaimana terjadinya perhatian itu. Dengan kata lain, kita telah membatasi konsepnya dan kita telah pula menjelaskan cabang-cabangnya yang beraneka ragam, tetapi kita belum mengetahui bagaimana cara kerjanya.
            Memang ada berbagai teori mengenai perhatian. Berbagai teori telah dirumuskan, telah diformulasikan untuk menjelaskan proses perhatian, apa yang terjadi dalam otak dan pikiran kita pada saat kita sedang beraksi.
            Berikut ini teori-teori yang berkenaan dengan perhatian itu:
1. Teori Seleksi-Responsi
2. Teori Saringan
3. Teori Seleksi Masukan

  1. FAKTOR PEMENGARUH PERHATIAN MENYIMAK
Kalau kita sepakat bahwa keterampilan menyimak yang baik sangat penting bagi komunikasi lisan yang efektif, kita harus mulai sedini mungkin menentukan cara-cara khusus untuk meningkatkan keterampilan ini. Akan tetapi, sebelum kita melakukan hal ini, kita harus mencoba memahami factor-faktor yang dapat mempengaruhi perhatian kita untuk menyimak. Kita harus memperhitungkan pengalaman, pembawaan, sikap dan motivasi yang dapat menunjang penyimakan yang baik sebelum kita menelaah aneka metode bagi peningkatan keterampilan ini.
Faktor pengalaman sangat menentukan besar atau tidaknya perhatian seseorang untuk menyimak sesuatu. Pengalaman yang dimaksudkan dapat berasal dari pembicara ataupun dari penyimak. Setiap irang tentu menaruh perhatian terhadap pembicaraan yang disajikan oleh orang yang banyak pengalaman dan banyak pengetahuan. Orang ingin mengetahui masalah baru apa yang akan diceritakan oleh pembicara. Rasa ingin tahu merupakan akar dari perhatian yang besar. Sekarang, pengalaman dari pihak penyimak. Pernah seseorang menyesal karena tidak mau menyimak suatu informasi yang dikemukakan oleh seorang pembicara, padahal informasi itu sangat penting baginya. Pengalaman masa lalu itu mengajar dia untuk tidak dua kali kehilangan tongkat. Oleh sebab itu, kalau ada pembicara yang akan menyampaikan suatu pesan, dia selalu member perhatian besar.
Faktor pembawaan seseorang pun turut berperan, apakah perhatiannya untuk menyimak sesuatu itu besar atau tidak. Ada orang yang berpembawaan baik dan ada pula yang jelek. Orang yang berpembawaan baik dapat menyesuaikan diri pada situasi dan kondisi, sedangkan orang yang berpembawaan jelek justru sebaliknya. Baik pembawaan pembicara maupun pembicaraan penyimak turut menentukan taraf perhatian seseorang untuk menyimak.
Faktor sikap tidak boleh kita abaikan terhadatp perhatian menyimak. Sikap terbuka memang sangat dibutuhkan dalam kegiatan menyimak. Sebaliknya, sikap tertutup atau sikap cutiga akan mengurangi minat atau perhatian seseorang untuk menyimak pembicaraan seseorang.
Faktor motivasi, dorongan atau alasan sangat menentukan besar atau tidaknya perhatian seseorang untuk menyimak ceramah, kuliah, khotbah, atau pembicaraan yang dibawakan oleh seorang pembicara. Biarpun seandainya terdapat banyak gangguan atau kendala fisik atau mental, tetapi kalau ada motivasi besar, perhatian menyimak sesuatu tetap besar.
Faktor jenis kelamin dapat menentukan kadar perhatian untuk menyimak. Minat dan perhatian pria dan wanita memperlihatkan perbedaan, walaupun tidak dapat disangkal adanya persamaan. Ada hal-hal khusus yang menarik perhatian wanita. Ada hal-hal khusus yang lebih menarik perhatian pria. Pembicara yang berpengalaman tentu mempertimbangkan hal ini. Tema bahan pembicaraan dapat berbeda kalau para penyimak terdiri dari kaum wanita saja, atau terdiri dari pria saja, ataupun campuran. Memang harus diingat bahwa ada hal-hal yang tidak pantas disimak oleh kaum pria dan ada pula hal yang tidak sesuai bagi kaum wanita. Jadi dengan singkat dapat kita katakana bahwa factor kelayakan ini tidak boleh diabaikan.

  1. MENGAPA KITA MENYIMAK
Ada beberapa alas an mengapa kita menyimak, diantaranya adalah:
  1. Menyimak demi kenikmatan
  2. Menyimak demi pemahaman
  3. Menyimak demi penilaian



  1. BAHAN SIMAKAN YANG MENARIK PERHATIAN
Dari pembicaraan di muka dapatlah kita petik butir-butir pokok yang ada kaitannya dengan upaya untuk membuat bahan simakan yang akan disajikan oleh seorang pembicara sehingga menarik perhatian para penyimak.
Butir pertama        :           Tema harus up-to-date
Butir kedua           :           Tema terarah dan sederhana
Butir ketiga           :           Tema dapat menambah pengalaman dan pemahaman
Butir keempat       :           Tema bersifat sugestif dan evaluative
Butir Kelima         :           Tema bersifat motivatif
Butir keenam         :           Pembicara harus dapat menghibur
Butir ketujuh         :           Bahasa sederhana mudah dimengerti
Butir kedelapan     :           Komunikasi dua arah.


KESIMPULAN

Syarat-syarat bahan simakan yang harus disusun agar menarik perhatian penyimak:
  1. Tema yang mutakhir,
  2. Tema yang terarah dan sederhana
  3. Tema yang menambah pengetahuan
  4. Tema yang bersifat sugestif dan evaluative
  5. Tema yang bersifat motivatif
  6. Dapat menghibur, menyenangkan, penuh humor
  7. Bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti
  8. Harus bersifat duolog, bukan dialog melulu.


DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa, Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar